(Not) Like Rapunzel #TakeOffMyRedShoesGA


PicsArt_1442023230731

Flashfiction ini adalah awalan dari revolusi blog ini. Flashfiction pertama  yang dibuat untuk kepentingan Giveaway, juga para pembaca yang mungkin secara tidak sengaja mampir disini 🙂

               Dulu aku disebut buah cinta oleh kedua orangtuaku, diberi kasih sayang melimpah hingga aku merasa hanya akulah satu-satunya anak paling bahagia didunia ini. Tapi sekarang, aku disini. Menunduk ketakukan pada orang yang berdiri dihadapanku dengan tatapan tajam. Mereka pergi, bersamaan dengan ketukan palu diatas meja hijau. Dan meninggalkanku pada sebuah keluarga yang setiap hari selalu menyiksaku. Aku bagaikan Rapunzel, terjebak disebuah kastil indah dengan kesepian mencekam, bedanya aku disini dengan orang-orang yang selalu menyiksaku. Tidak memberikan kebebasan sama sekali dengan memastikan bahwa aku tidak akan hidup nyaman. Entahlah, apa salahku. Aku tidak pernah mencuri bunga emas milik mereka yang akan membuat mereka kelihatan awet muda sepanjang hidupnya, sama sekali tidak. Tapi, wajahku yang terlalu barat dan rambut pirangku selalu menjadi alasan mereka menyiksaku, aku berbeda, dan mungkin mereka tidak menyukai perbedaan. Ketika semua kekejaman itu terjadi, aku selalu kesini, berakhir seperti ini, memeluk lututku lalu menangis dalam kesendirian ditaman belakang rumah ini. Mereka tidak pernah mengizinkan ku keluar, bahkan untuk sekedar mencari ketenangan. Bukankah sudah kubilang bahwa aku ini Rapunzel, dengan versi yang sangat menyedihkan.

Dulu, aku sangat menyukai wajah serta rambutku yang berbeda dari orang lain. Tapi sekarang, ketika semua ini terjadi, aku mulai tidak menyukai nya. Tidak peduli mereka akan menamparku beberapa kali, aku memotong rambutku dengan ganas. Yang membuatku menangis adalah rasa sakit karena perubahan ini, wajah dan rambut yang sedari dulu aku banggakan, kini hanya onggokan malapetaka hidupku. Menoleh ke kanan, aku mendapati seorang lelaki tengah menatapku. Lelaki yang sama yang setiap hari selalu melihatku dari jauh. Dari sebuah rumah yang tepat berada disamping kanan rumah ini. Dia selalu disana, melihatku, mungkin tanpa berkedip, hingga aku merasa tidak perlu untuk merasa malu lagi jika ia melihatku menangis seperti ini. Aku berdiri, meninggalkan taman yang selalu menjadi penghibur rasa sedihku setiap hari. Tapi hidupku terus seperti ini, tidak ada yang berubah. Rapunzel diselamatkan oleh pengeran yang datang dengan keberanian dan melawan sang nenek jahat yang berniat membuat Rapunzel terkurung di kastil seumur hidup. Tapi aku tetap seperti ini, hidup tersiksa. Hingga aku merasa ini lah titik terdalam kesedihanku. Seluruh tubuhku yang memar tidak ku pedulikan, yang aku butuhkan hanya lah ketenangan taman untuk menghilangkan sakit dan airmata. Tidak peduli malam datang, airmata yang bagaikan badai itu tetap aku tumpahkan. Hingga, sebuah tangan terulur didepan wajahku, tangan dari lelaki yang selalu menatapku dari jauh.

“Jangan menangis lagi. Ayo, kita pergi.”

Bolehkah aku berharap bahwa ia yang akan menjadi pangeranku? Seperti pangeran yang menolong Rapunzel dari nenek jahat?

Advertisements

Leave Your Coment Please

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s